Peringatan: Chapter ini mengandung konten eksplisit.
“Jika kau menyaksikan kembali momen kematian orang tuamu, apakah itu tidak akan mengubah pikiranmu juga?”
“Keparat…”
“Bagus. Itu ekspresi yang seharusnya kau miliki. Ah, ya… Penghinaan dan kecaman dari orang yang kita cintai—itu menggairahkan, bukan?”
Bellamora menjentikkan jarinya dengan wajah yang dipenuhi hasrat.
Dia bahkan tertawa seolah tatapan penuh kehijauan yang kutujukan padanya terasa manis.
“…Itu bukan cinta. Itu jelas bukan cinta yang tulus.”
Victoria menggigit bibirnya dan meredup seolah kata-kata Bellamora telah menyentuh bagian sensitif.
Dia melirik padaku dengan ragu.
-Aku… Aku juga mengatakannya ketika berbicara padamu, Astal, tapi itu hanya caraku menyembunyikan seberapa aku menyukaimu… Itu bukan karena aku ingin menyakitimu atau merepotkanmu…
Pikiran dalam diri Victoria dipenuhi kekhawatiran—apakah dia tidak berbeda dari Bellamora?