Dulu aku pernah menyaksikan kematian yang tak terhitung jumlahnya, begitu nyata hingga seolah membakar mataku.
Pada ulang tahunku yang kesepuluh, hari yang seharusnya dipenuhi dengan kebahagiaan, aku kehilangan semua yang kucintai.
Bau darah yang menyengat, suara orang-orang yang berteriak minta tolong, abu yang menyengat dan asap yang menyesakkan…
Semuanya bercampur menjadi satu dalam pemandangan mengerikan, bagaikan cat gelap yang dioleskan di kanvas, berlangsung di desa tempat aku dilahirkan dan dibesarkan.
Kebahagiaan sederhana yang pernah aku anggap biasa telah hancur total oleh pasukan Raja Iblis dan salah satu dari Empat Raja Surgawinya, Dullahan, yang menyerbu kampung halaman aku, desa Mavilos.
Penyesalan datang terlambat.
Bagaimana jika sebelumnya kita menyadari monster berkumpul di sekitar desa dan mengeluarkan perintah evakuasi?
Bagaimana jika kita membangun tembok pertahanan dan meminta bantuan dari luar?
Pikiran-pikiran semacam itu tak henti-hentinya berputar dalam benakku.
Aku tak dapat menghentikan banjir pertanyaan “bagaimana jika” yang terus menghantuiku.