“Kalau begitu, aku juga mendoakanmu agar mimpi indah, Tuan Astal. Selamanya.”
Tepat setelah itu, suara Bellamora bergema dan pandanganku menjadi gelap.
Suatu perasaan melayang, seolah-olah tubuhku hanyut di atas air, menyapu diriku bagai ombak.
Berapa banyak waktu yang telah berlalu?
Saat aku berjalan perlahan menuju suatu ruang di mana cahaya hangat mulai merembes masuk, pemandangan yang sangat familiar mulai muncul.
Angin sepoi-sepoi yang sejuk berembus melalui jendela yang terbuka, kehangatan terasa di kulitku, anak-anak berlarian dan tertawa di ladang gandum keemasan.
“Ini tidak mungkin…”
Melihat pemandangan yang terbentang di depan mataku, aku tak dapat menahan diri untuk menggigit bibir bawahku.
Tak peduli seberapa keras aku berusaha untuk berpikir, aku tetap tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi.
Aku mengingat pemandangan ini lebih jelas daripada orang lain.