Mural itu, begitu besar sehingga mendominasi pandangan Victoria dan aku, hampir tampak seperti gerbang menuju dunia lain.
Di sebelah kiri, sebelas sosok berdiri dengan ekspresi khidmat, siap untuk berperang.
Di sisi sebaliknya, sebuah sosok bayangan raksasa, terfragmentasi seperti kaca yang pecah, tergambarkan.
Mural ini jelas menggambarkan peristiwa yang berkaitan dengan para dewa—lagi pula, gambar pria tua berjanggut, pemandangan yang sudah tak asing lagi selama aku berada di Menara Penyihir, tidak dapat disangkal.
“Itu… Odin, dewa utama. Kenapa dia ada di sini…?”
Aku tidak dapat menyembunyikan kebingunganku saat menatap Odin—pemimpin para dewa yang sering disebut Dewa Sihir—bertempur bersama makhluk lainnya melawan sesuatu.
Masalah pertama adalah lokasi.
Ini adalah Perpustakaan Terlarang dari Kerajaan Suci Aurelium, sebuah tempat yang dimaksudkan untuk menyimpan buku dan dokumen yang seharusnya tidak pernah terlihat oleh siapapun.
Itu berarti mural ini bukan sekadar hiasan, tetapi sesuatu yang memiliki makna mendalam.
“Bahkan Dewi Surgawi Lumina tergambar di sini. Apa artinya ini?”