Bab 0 – Prolog
Lee Jin-sung menyukai fantasi.
Gairahnya terhadap hal itu melampaui sekadar kesenangan, mendekati obsesi.
Minat dan ketertarikannya pada dunia fantasi melampaui novel-novel fantasi sederhana hingga mencakup salinan sejarah dan mitologi yang menghabiskan seluruh gajinya untuk membelinya.
Oleh karena itu, dia selalu berharap.
Dia ingin pergi ke dunia fantasi, dunia penuh keajaiban dan sihir.
Lee Jin-sung tidak berhenti bermimpi. Ia berhenti dari pekerjaannya dan memulai perjalanan. Selama bertahun-tahun, ia mencari keajaiban dunia yang misterius, menjelajah ke tempat-tempat terpencil yang tidak berani dikunjungi orang lain.
Ia menaklukkan gunung-gunung tertinggi di dunia dan bahkan menjelajah hingga ke ujung paling selatan Bumi. Ia pergi ke pusat Bumi.
Namun tentu saja, tidak ada hasil apa pun.
Realitas adalah hal yang terjauh dari fantasi.
Pada saat itu, ia tergoda untuk menyerah, tetapi Lee Jin-sung tidak sanggup melakukannya. Setiap malam, ia berdoa. Kepada semua dewa di Bumi, dan bahkan kepada mereka yang berada di luar Bumi. Ia berdoa agar ketika ia bangun keesokan paginya, ia akan menemukan dirinya berada di tengah dunia fantasi.
Dan kemudian suatu hari, doanya terkabul.
Hanya saja, tidak seperti yang ia harapkan.
“…Ini bukan yang aku harapkan.”
Helaan napas keluar dari mulutnya. Napasnya membeku dan jatuh ke tanah.
Dia mengangkat kepalanya dengan ekspresi putus asa.
Di hadapannya terbentang hamparan dingin yang menusuk tulang.
———————