**Peringatan: Chapter ini mengandung konten eksplisit.**
Segera setelah aku mendengar pengumuman perang dari Dullahan, aku menyadari bahwa semua rencana yang telah kami buat hingga saat ini telah sia-sia.
Sejak awal, sihir yang mengganggu persepsi tidak akan efektif melawan seorang penyihir yang memiliki keterampilan setara denganku, dan jika aku gagal bertindak meyakinkan, segala kekakuan bisa mengungkapkan kami.
Tempat ini seharusnya menyelenggarakan sebuah acara yang merayakan akhir turnamen—sebuah pesta makanan dan minuman melimpah untuk menghormati sang pemenang.
“Berlawan dan bunuh! Berlawan dan bunuh! Berlawan dan bunuh!”
Kerumunan meneriakkan frasa yang sama berulang kali, bersorak excited, mengayunkan tinju mereka, dan dengan antusias menantikan pertarungan yang belum dimulai.
Kami sengaja memperlambat kedatangan kami untuk menangkap mereka dalam momen ketika mereka paling lengah.
Namun, seolah mereka telah melihat melalui rencana kami, Dullahan tidak pernah membuka arena sama sekali.
Sebaliknya, ia mengumpulkan orang-orangnya di satu tempat dan memasang jebakan untuk mendeteksi kedatangan kami.
“Yang lemah tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup! Yang lemah tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup! Yang lemah tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup!”
“Uwaaaaaah!!”