Rasa amis yang tertinggal dan kuat, membuat aku ingin menjepit hidung aku.
Pemandangan orang-orang yang kukenal, semuanya dengan anggota tubuh terputus, menggeliat di tanah seperti cacing.
“Tolong aku…! Aku masih punya anak di rumah yang bahkan belum disapih…!”
“Tolong, tolong… putriku… lari… pergi…”
Ada yang berteriak minta tolong, ada pula yang tidak bisa lari, menangis dan memohon anak-anaknya untuk lari.
Tragedi ini terungkap nyata di depan mataku.
“Hah…, huff…”
Bahkan saat aku menghembuskan napas, yang kurasakan hanyalah panas yang membakar dari tempat kejadian perkara yang terbakar di sekelilingku, yang seakan-akan dapat menghanguskan tubuhku, dan abu serta asap tajam yang membuatku tercekik hingga terbatuk.
Segala yang kulihat di hadapanku terbakar habis, dan bayangan orang-orang yang merintih kesakitan tampak seperti sedang menari.
Aku tidak punya pilihan selain mengingat adegan ini.