Pikiran Rachael sudah berada pada batasnya selama empat bulan ini.
Hidup di pulau terpencil ini jauh dari kata mudah.
Ada hari-hari di mana dia harus kelaparan, malam-malam ketika dia tidak bisa tidur karena monster, dan waktu-waktu di mana dia terbaring menderita demam.
Setiap hari terasa menyakitkan.
Secara fisik.
Secara mental.
Dia sudah terjepit begitu lama, dan sekarang, dengan kejadian terbaru ini, dia akhirnya hancur.
‘Rachael, kau telah menendang jauh kesempatan yang diberikan dewi kepadamu. Tidak bisa bahkan mengenali suara temanmu dan menusuk mereka? Kau benar-benar seorang idiot yang menyedihkan, bukan?’
“Tidak… itu tidak benar.”
‘Tidak benar? Hadapi kenyataan. Ini adalah takdirmu. Mati sendirian, tanpa keluarga, tanpa teman. Seperti rumput yang tumbuh melalui aspal yang retak.’
“Ah… ha, haha…”
Pernapasannya menjadi tidak teratur.
Dia tidak bisa makan, tidak bisa tidur.