Fajar mulai menyingsing.
“Kita bisa mendapatkan air dari batu pemurni. Mencari makanan seharusnya jadi prioritas kita.”
Kami berempat berangkat dari Sabine dengan perahu kecil, mendayung menuju sisi lain pulau.
Akhirnya, kami mendarat di sebuah lapangan yang landai.
Untungnya, tanah ini tidak sepenuhnya gersang.
Kami menemukan akar-akar yang bisa dimakan, biji-bijian primitif yang disebut kacang Rakut, bahkan serangga kecil dan reptil yang bergerak cepat melalui semak-semak rendah—sumber energi yang lumayan meskipun tampilannya tidak menggugah selera.
“…Tapi ini tidak terlalu melimpah.”
“Daripada tidak ada.”
Di pulau yang tandus ini, hanya mendapatkan makanan saja sudah merupakan berkah tersendiri.
Ironisnya, keuntungan terbesar pulau ini juga merupakan bahaya terbesarnya: api.