Luna, yang bahkan tidak pernah mabuk, menyarankan untuk minum.
Kata-katanya tidak masuk akal, tetapi pilihan apa yang aku miliki?
Beginilah kehidupan kerja.
Sambil mengutuknya dalam hati, aku duduk di sofa, melepas mantel, dan bertanya,
“Apa kamu benar-benar memanggilku ke sini hanya untuk minum?”
“Ya, kenapa?”
Itu bukan nada bicaranya yang berwibawa seperti biasanya, tetapi cara bicaranya yang alami.
Itu adalah nada yang hanya kudengar pada malam pertama kami.
“Apa kau pandai minum?”
Mendengar pertanyaan Luna, aku menggelengkan kepala.