Aku mencoba menenangkan hati yang bergetar dengan memainkan cincin yang Victoria letakkan di tanganku.
Jika dia melihatku seperti ini, pasti dia akan menyuruhku untuk menenangkan diri dengan memegang dadaku.
Bunga cosmos yang sangat disukai ibuku. Bunga yang terukir di cincin itu juga tumbuh di taman bunga dekat rumah kami.
“Ketika aku melihat hal-hal seperti ini, aku tak bisa tahu apakah pengalaman itu mimpi atau kenyataan.”
Aku menghela napas dalam-dalam, mengingat gambar orang tua yang pernah kulihat dalam mimpiku.
Wajah dan senyuman orang-orang yang telah kutunggu sepanjang hidupku bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilupakan.
Seandainya aku menerima tawaran Bellamora, aku pasti terjebak di masa lalu, hidup dalam ilusi yang tak berujung.
“Tapi, tidak mungkin orang tuaku menerima seseorang seperti Bellamora sebagai menantu…”
Aku bergumam pada diriku sendiri, tak bisa menahan tawa kecil ketika Victoria terlintas di pikiranku.
Itu mengingatkanku pada sesuatu yang pernah dikatakan ayah—dia menyuruhku untuk segera memberi tahu jika aku mulai berkencan dengan seseorang.