Lich, yang bergerak perlahan, memiringkan kepalanya dan menatapku dengan intens.
Aku tidak mengerti bagaimana rongga mata yang kosong itu bisa melihat, tapi aku merasakan tatapan itu tertuju padaku.
“Menarik. Kau memblokir firasat kematianku. Sudah berapa abad sejak aku melihat seorang penyihir sepertimu?”
Dengan suara yang tidak menyenangkan seperti kuku di atas logam, Lich jelas berbicara, meskipun tidak memiliki lidah.
“…Heh, seorang penyihir hitam yang sudah mati masih bisa bicara, ya?”
Aku mengeluarkan tawa pahit mendengar kata-kata Lich, seolah tidak percaya.
Hanya ada satu penjelasan yang mungkin untuk makhluk sepertinya.
Seorang manusia hidup yang jatuh, meninggalkan tubuh dan jiwa, dan berubah menjadi monster.
“Aku melihat generasi muda kekurangan tata krama. Bahkan tidak mengenali seseorang yang sudah hidup lama, ya?”
“Seorang monster yang meniru hati dan pikiran saat masih manusia, menyebut dirinya senior? Siapa kau kira kau sedang berbicara kepada siapa?”